Topeng Sebagai Karya Seni Tradisional Bali
Hallo blogger lovers selamat datang di blog
saya di akhir saya minta komen nya ya!!!!
Apakah kamu tau Topeng
sebagai bentuk karya seni tradisional di Bali lebih dikenal dengan sebutan tapel.
Keberadaan topeng dalam masyarakat Bali berkaitan erat dengan upacara keagamaan
hindu. Topeng ini umumnya untuk menghormati sesembahan atau memperjelas watak
dalam mengiringi kesenian. Bentuk topeng bermacam-macam ada yang mengambarkan
watak marah, ada yang menggambarkan watak lembut, dan ada pula yang menggambarkan
kebijaksanaan.
Di Bali
topeng bukan hanya sekedar seni tari belaka loh gaes , tetapi topeng juga menjadi suatu
keharusan dalam ritual keagamaan karena itu sering juga disebut dengan topeng
wali. Topeng berarti penutup muka yang terbuat dari kayu, kertas, kain atau
bahan lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda. Dari yang berbentuk wajah
dewa-dewi, manusia, binatang, setan dan lain-lainnya. Di Bali topeng juga
adalah suatu bentuk dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan
cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad.
Di Bali, sentra pemahat topeng, salah satunya terletak di Kabupaten
Gianyar tepatnya di Banjar Puaya Desa Batuan Kecamatan Sukawati, Gianyar.
Sebagian besar masyarakat Puaya hidup sebagai pembuat tapel. Seiring
perkembangan zaman, memang dirasa bahwa seni topeng yang ada di Bali, yang
terus berjalan dan berkembang, berubah sejalan dengan perubahan nilai-nilai
artistik, sosial, dan kultural dari masyarakat Bali. Sehingga tak heran,
saat ini banyak bermunculan seni topeng kontemporer dan juga topeng sebagai
pajangan. Namun di Puaya, masyarakatnya tetap memegang pakem-pakem yang telah
ada secara turun-temurun dalam membuat topeng.
Bahan baku yang umum digunakan oleh para pengrajin di Puaya adalah
kayu. Dalam pemilihan jenis kayu untuk pembuatan topeng, ada beberapa hal yang
menjadi pertimbangan para pemahat topeng seperti jenis topeng yang akan dibuat,
diameter kayu, warna kayu, tekstur kayu, dan lain sebagainya. Jenis kayu
yang ditemukan di lapangan yang digunakan untuk bahan topeng adalah sebanyak
lima jenis kayu. Jenis-jenis kayu tersebut adalah pulai (Alstonia sholaris (L.)
R.Br.), kamboja putih (Plumeriaacuminata), dan bentawas (Wrightiacalycina),
serta ada juga yang menggunakan panggal buaya (Zanthoxylumrhetza) dan
jempinis (Melia azedarach L.) Pohon pulai atau Alstonia
scholaris (L.) R. Br. tergolong ke dalam bangsa Gentianales dan suku
Apocynaceae. Pohon pulai berukuran sangat besar dan biasanya hanya tumbuh di
area-area tertentu seperti kuburan. Pulai dapat mencapai tinggi 40 meter dengan
batang tegak, bergetah, kulit bagian luar berwarna coklat keabu-abuan, beralur,
dan mengelupas.
Kamboja
putih, Plumeriaacuminate juga tergolong ke dalam bangsa
Gentianales dan suku Apocynaceae. Pohon kamboja putih dapat mencapai tinggi 6
meter, hanya saja untuk pohon yang tumbuh di area suci sangat jarang ditemui
yang berukuran besar sehingga pohon ini jarang digunakan sebagai bahan baku
ukiran topeng. Kamboja putih memiliki batang bengkok, bergetah, kulit batang
bagian luar berwarna coklat, retak-retak dan rapuh.
Pohon bentawas (Wrightiacalycina)tergolong ke dalam
bangsa Gentianales dan suku Apocynaceae. Pohon ini dapat mencapai tinggi 15
meter dengan batang bulat, kulit bagian luar berwarna coklat, beralur dangkal,
dan mengelupas. Menurut informasi dari para pemahat, bentawas cukup sulit
ditemukan sehingga jarang digunakan sebagai bahan baku pembuatan topeng.
Panggal buaya (Zanthoxylumrhetza) tergolong ke dalam
bangsa Sapindales dan suku Rutaceae. Pohon ini dapat mencapai tinggi 20 meter
dengan batang lurus, kulit bagian luar berwarna coklat dan berduri tajam.
Struktur unik seperti duri inilah yang kemudian menyebabkan tumbuhan ini
disebut panggal buaya karena duri-duri tersebut mirip dengan duri-duri pada
punggung buaya.
Jempinis atau Melia azedarach L. merupakan
pohon yang tergolong ke dalam bangsa Sapindales dan suku Meliaceae. Jempinis
dapat tumbuh hingga ketinggian 30 meter. Batangnya tegak, lurus, kulit bagian
luar berwarna coklat kelabu hitam, beralur sangat dangkal, berlenti sel, dan
mengelupas.
Dalam pembuatan ukiran topeng, terdapat beberap sifat kayu yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut.
Dalam pembuatan ukiran topeng, terdapat beberap sifat kayu yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut.
1) Warna Kayu
Ada beraneka macam warna kayu antara lain warna kuning,
keputih-putihan, coklat muda, coklat tua, kehitam-hitaman, kemerah-merahan, dan
sebagainya. Warna suatu jenis kayu dapat dipengaruhi oleh faktor berikut:
tempat di dalam batang, umur pohon, dan kelembapan udara.
2) Tekstur Kayu
Tekstur kayu ialah ukuran relatif sel-sel kayu. Yang
dimaksud oleh sel kayu ialah serat-serta kayu. Kayu dapat bertekstur halus,
sedang, atau kasar.
3) Serat
Bagian ini terutama menyangkut sifat kayu, yang menunjukkan
arah umum sel-sel kayu di dalam kayu terhadap sumbu batang pohon asal potongan
tadi. Arah serat dapat ditentukan oleh arah alur-allur yang terdapat pada
permukaan kayu. Kayu dikatakan berserat lurus, jika arah sel-sel kayunya
sejajar dengan sumbu batang. Jika arah sel-sel itu menyimpang atau membentuk
sudut terhadap sumbu panjang batang, dikatakan kayu tersebut berserat mencong.
Serat mencong terbagi atas serat berpadu yaitu bila batang kayu terdiri dari
lapisan-lapisan yang berselang-seling, menyimpang ke kiri kemudian ke kanan
terhadap sumbu batang, serat berombak yaitu bila serat-serat kayu yang
membentuk gambaran berombak, serat terpilin yaitu bila seratt-serat kayu yang
membuat gambaran terpilin-seolah-olah batang kayu dipilin mengelilingi sumbu,
dan serat diagonal yaitu serat yang terdapat pada potongan kayu.
4) Figura
Figura merupakan pola kayu yang terdapat pada permukaan
kayu. Figura ini sangat menentukan nilai dekoratif kayu. Penyebab timbulnya
figura adalah penyebaran zat warna yang tidak rata, arah serat, tekstur, dan
pemunculan lingkaran tumbuh yang bersama-sama dalam suatu pola atau
bentuk-bentuk tertentu.
5) Berat Kayu
Berat suatu jenis kayu tergantung dari jumlah zat kayu yang
tersusun, rongga-rongga sel atau jumlah pori-pori, kadar air yang dikandung,
dan zat-zat ekstraktif di dalamnya
6) Kekerasan
Pada umumnya terdapat hubungan langsung antara kekerasan
kayu dan berat kayu. Kayu-kayu yang keras juga termasuk kayu-kayu yang berat.
Sebaliknya kayu ringan adalah juga kayu yang lunak. Berdasarkan kekerasannya,
jenis-jenis kayu dapat berupa kayu sangat keras, kayu keras, kayu sedang, dan
kayu lunak.
Advertisements
Advertisements

Wow
BalasHapusInspirasi ne 👍👍
BalasHapusKerennn
BalasHapusWahwah
BalasHapusMantap min
BalasHapusmakasi koment nya
BalasHapusmakasi atas komennya
BalasHapusMntap
BalasHapus